Friday, October 25, 2013

Kerinci, the journey I wont forget



Perjalanan ke Kerinci sudah aku rencanakan dari tahun lalu dengan membeli tiket promo ke Padang untuk waktu sekitar pekan ketiga Oktober 2013. Menurut rencana, perjalanan ini akan saya lalui bersama reuni pendaki Rinjani Consina 2012. Sayang sekali tiket kami terbang bersama si macan dibatalkan dan belum ada kepastian sampai tulisan ini dibuat, apakah kami mendapat refund. Kepastian ini diinformasikan teman yang membelikan tiket sebulan sebelum keberangkatan.
Aku hampir melupakan Kerinci untuk tahun ini, karena perjalanan ke sana lumayan mahal dan untuk mencari tiket pesawat promo dalam waktu dekat tidaklah mudah. Aku chating dengan Cinta maksudnya mau Curhat, malah dia udah regist perjalanan ke sana, aku jadi mau ikut juga even itu. Pertama karena memang tahun ini aku udah planing ke Kerinci, kedua khawatir sama Cinta, karena ini adalah pendakian ke volcano tertinggi di Indonesia, dan di gunung ini si belang masih banyak.
Aku berkeras ikut dan minta tolong dicarikan tiket, bukannya gak bisa cari tiket online, tapi setiap aku mau pergi bareng Cinta memang aku minta dicarikan supaya duduknya bareng. Baiknya Cinta, bukan Cuma mencarikan tiket malah sudah sekalian ditransferkan uangnya. Apapun yang dipilihkan aku bilang ok aja, dapet pergi pakai Garuda dan pulang pakai Sriwijaya. Well, buat aku lumayan mewah pergi pake garuda sekarang ini, maklum Cuma guru honor.
Sip semua tiket sudah siap sejak Agustus, sepekan setelah pulang dari peresmian AWASPALA di Curug Panjang. Aku gak pernah pamer mau pergi ke Kerinci ke anggota AWASPALA karena memang bukan untuk dipamerkan, juga tidak mengajak satu orang pun dari mereka karena menurut aku ongkosnya memang jauh lebih tinggi dari pada ke gunung-gunung yang biasa kami daki di Jawa. Tiket Garuda 850K, tiket Sriwijaya 550K, udah include airport tax, dan biaya regist 850K. Jadi ongkos pendakian ini lumayan 2250K, well sama dengan ke Rinjani tahun lalu. Tapi alhamdulillah, ada rejeki menjelang keberangkatan. Dari sekolah ada uang upah kegiatan ini itu jadi bisa tenang.
Pada perjalanan kali ini kami bersama BPI yang dikoordinasi Mega Barutu. Kelompok kami pada akhirnya terdiri dari Mega, Elvy, Lina, aku, Dayat, Andi, Sukma, dan Om Benny. Jadi semua menjadi 8 orang, yang seharusnya ada 10 orang.

Persiapan

Seperti pendakian ke Slamet, aku nitip motor di kantornya Lina di daerah Sudirman. Berangkat bersama Jum’at 11 Oktober 2013, jam 13 pas naik taksi menuju Gambir. Dari Gambir kami naik bis Damri menuju bandara, keren juga di tiket dituliskan 2F, gate untuk Garuda mmm. Penerbangan kami masih jam 16:05, tapi kami mengantisipasi kemacetan menuju bandara. Benar saja perjalanan menuju bandara memang sangat macet, dan kami tiba sekitar jam setengah 3. Kami langsung cek in dan menunggu boarding yang 20 menit sebelum keberangkatan kami. Sempat juga sholat ashar di mushola bandara SOETTA ini, wangi dan nyaman musholanya 2 thumbs.
Cinta, aku suka gayanya ke bandara pake sendal jepit, dan ini sudah berkali-kali dia lakukan, benar-benar sendal jepit swalow J. Tidak mengurangi rasa suka saya, walaupun dia cuma pake sendal jepit, low profile, that’s why she’s my type.
Menunggu di ruang tunggu SOETTA selama hampir dua jam tidak membuat aku bosan, karena nunggunya bareng Cinta. Kami bisa ngobrol, bercanda, sehingga bisa membunuh kebosanan menunggu waktu boarding.
Tiba waktunya boarding dan memulai penerbangan. Cuaca Jakarta waktu itu cerah dan tidak menimbulkan kekhawatiran untuk terbang. Aku punya masalah sendiri kalo terbang, saat landing telinga ku bakal sakit karena perubahan tekanan udara. Fasilitas di dalam pesawat ini adalah lcd touch screen di setiap kursi, dan hidangan ketupat opor ayam. Sayang lcd nya agak-agak lemot.
Dalam penerbangan ini beberapa kali kami untuk tetap mengenakan sabuk pengaman, dan memang aku merasakan beberapa kali turbulensi ringan, cuaca di luar pun mendung. Tiba pada waktunya landing, pemandangan di luar pesawat gelap gulita, kami lihat di lcd sudah menunjukkan angka 0km menuju destinasi. Aku merasakan pesawat yang sudah turun, naik lagi dan berjalan berputar-putar,”mas, pesawatnya kok naik lagi?” kata Cinta. Dalam hatiku, pasti banyak antrian untuk landing, atau memang cuaca di bawah sangat tidak mendukung untuk landing. Aku agak nervos saat itu, aku pegang tangan Cinta, “Cin kamu takut?” tapi dianya diam aja. Aku berdoa dalam hati ‘La Hawla Wala Quwwata illa Billah’. Tapi setelah beberapa kali berputar pesawat landing juga, turunnya agak bergetar, dan kami mendarat mulus, walaupun ada getaran sedikit, aku langsung berucap spontan, “wow pilotnya keren nih Cin, landingnya termasuk mulus di cuaca begini.” Hujan deras menyambut kami yang baru tiba di bandara Minangkabau, pantas saja kami berputar-putar agak lama di atas.
Di bandara kami sudah ditunggu oleh peserta lain, om Benny, kakek berumur 64 tahun yang sudah tiba lebih dulu. Beliau sudah datang sejak jam 5 di bandara katanya. Kami mengalami beberapa kesalahpahaman waktu itu, tapi sebenarnya memang om Benny ini unik, kami merasa tidak salah saat menentukan tempat bertemu, tapi beliau lebih tidak terima. Ya sudah kami diamkan saja beliau yang tidak mau bergabung menuju tempat kami menunggu.
Dari sms dan chat kami tahu Andi yang terbang bersama Lion delay karena cuaca buruk, Sukma mendarat darurat di Pekanbaru karena cuaca juga. Mega dan Elvy sudah menuju Padang dari Jambi, karena mereka memilih mendarat di Jambi. Dayat adalah pemuda dari Padang yang banyak mambantu kami di sana. Dia baru akan datang jam 8 malam, sementara waktu itu jam 7. Kami berdua memutuskan menunggu di Lapau Coffee, memesan hot cocholate(padahal Cuma Milo) yang ternyata seharga @25K, well, mungkin harga duduk di bangkunya yang mahal.
Sampai jam 11 malam baru semua teman berkumpul, kami memperbicangkan segala komplain om Benny, yang jadi pusat pembicaraan dan membuat kesan kami ke Beliau menjadi negatif. Pada saat itu terpikir untuk tidak perlu mengajak om Benny, dan memang kami tidak melihat om Benny dari tempatnya menunggu. Lucu juga, kami akan bepergian dengan beliau hingga 4 malam, tapi kami tidak saling menyapa pada waktu itu.
Akhirnya kami: aku, Lina, Sukma, Andi, Dayat, adiknya dan teman adiknya yang akan menyupiri kami dari bandara ke Kersik Tuo berangkat. Betapa sempitnya berkendara menggunakan avansa untuk 7 orang di tmabah bawaan kami tas yang besar-besar. Di dalam kepala sudah terbayang komplain om Benny L.
Perjalanan kami menuju Kersik Tuo tertunda sebentar untuk makan, karena kami semua memang kelaparan. Di sebuah warung ‘ayam lepas’ kami menyantap hidangan dengan cepat, rasanya aku pikir gak jauh berbeda dengan yang ada di Jawa, dan harganya juga hampir sama.
Tim : Dayat, Sukma, Mega, aku, Cinta, Elvy, Om Benny, dan Andi yang ambil gambar

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan yang kami perkirakan selama 6 jam, dan memang 6 jam kami sampai di Kersik Tuo. Sepanjang perjalanan hujan masih terus turun dan deg degan juga karena mobil ini seperti jet coaster yang mengiris daerah lereng pegunungan dengan jalan yang berbelok-belok seperti leter W. kami hanya sekali rehat untuk buang air, dan itu membuat kami sampai di Homestay Paiman tepat waktu.

Homestay Paiman

Jam 6 kurang kami tiba di Homestay Paiman, tidak banyak tamu di sana, kecuali mas Rudi, seorang pendaki solo yang sebenarnya sempat nongkrong bareng di Café bandara tadi malam. Kami disambut ramah oleh ibu dan tidak lama the panas terhidang. Kami segera melakukan MCK dan bergegas sholat subuh. Kami masih menunggu Mega yang menggunakan angkutan dari Jambi, sekedar informasi, perjalanan dari Jambi ke Kersik Tuo adalah sekitar 12 jam. Tidak sampai satu jam Mega dan Elvy datang, kami saling bersalaman, dan yang paling berkesan adalah salaman Mega dan om Benny yang sempat bertengkar dengan sms.
Selanjutnya kami melakukan packing ulang, karena ternyata kami menggunakan 2 porter yang kami jadikan guide sekaligus. Baru kali ini aku pakai porter, dan alhamdulillah aku Cuma bawa satu botol air dan tidak bawa tenda. 
Ritual tunjuk puncak 
Sebelum memulai perjalanan kami sarapan dengan hidangan hangat khas pondok Paiman, setelah itu kami masing-masing membawa satu bungkus nasi untuk makan siang.


Ritual "I'll be there"
Pondok Paiman adalah homestay yang paling terkenal di kalangan pendaki Kerinci, letaknya Cuma sepuluh menit dari gerbang pendakian menggunakan angkutan. Setelah selesai repacking dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke gerbang pendakian jam 9 pagi itu. Hamparan kebun teh terbesar di Asia Tenggara sangat indah pagi itu, cukup menghibur untuk menambah semangat kami naik ke puncak volcano tertinggi di Indonesia.
Kami memulai perjalanan dengan berdoa agar kami tidak menemui banyak hambatan dan selamat sampai di tujuan.  
rombongan pertama, tas kami yang besar-besar
rombongan kedua

Gerbang pendakian

Narsis dulu

Perjalanan selanjutnya adalah ke pintu rimba, batas hutan untuk memulai ke jalur pendakian.

Pintu Rimba, batas hutan


Ke Pos 1

Perjalanan ke pos satu tidak memakan waktu lama, sekitar setengah jam kami menikmati perjalanan di bawah rindangnya hutan hujan tropis warisan kekayaan alam Indonesia ini. Sepanjang jalan kami adalah jalur yang becek, kadang berlumpur agak dalam akibat hujan yang mengguyur daerah TNKS ini. Di pos satu kami istirahat sebentar untuk melemaskan otot-otot kami sejenak. Perjalanan ke sini masih landai belum ada tanjakan yang curam.

Istirahat dan narsis dulu

Ke Pos 2

Perjalanan dilanjutkan ke pos 2, jalur masih sama-sama banyak lumpur dan akar. Beberapa trek mengikuti jalur air yang kadang agak dalam dan ini lumayan untuk pemanasan ke atas. Pos 2 kami lampaui, istirahat sejenak dan melanjutkan ke pos tiga. Pohon-pohon besar dan diselimuti lumut menjadi pemandangan yang sering kami lewati.


Di pos dua ini ada sumber air yang lumayan banyak dan bersih. Air sungai yang belum ada sampah di sana, turun sekitar 30 meter dari pos 2.

Ke Pos 3

Berjalan sebentar meninggalkan pos 2 hujan turun kecil-kecil, tapi makin lama makin besar dan terpaksa aku pakai mantel hujan Indomaret. Sayang celana yang masih bersih, aku lepas dan selanjutnya Cuma mengenakan celana sepeda. Ternyata lebih nyaman dan bebas bergerak, walaupun dingin, untungnya kami terus bergerak sehingga dinginnya tidak terasa.
hiking dengan celana pendek tanpa lotion, akhirnya aku gatal-gatal di kaki seminggu lamanya

Di sini terdengar uwa yang saling bersahut-sahutan mengingatkan aku lagi, bahwa di sini adalah rimba yang masih banyak binatang liar. Cinta agak takut mendengar suara-suara ini, kalau dia takut akunya senang juga, jadi aku pegang tangan dia menenangkan. Seperti di Slamet, perjalanan sepanjang pendakian ini pandanganku tidak lepas dari Cinta, aku akan menjaganya terus. Perjalanan dari pos 2 ke pos tiga agak lama, sekitar satu jam.
di Pos 3 kami masih kehujanan


Akhirnya sekitar setengah satu kami sampai juga di pos 3, di sana ada shelter yang bisa digunakan berteduh dari hujan. Shelter agak penuh karena ada sekitar 30 orang di sana termasuk kami. Kami istirahat agak lama di sana untuk makan siang membuka bekal makanan dari pondok Paiman tadi. Makan nasi bungkus dingin dalam keadaan lelah dan lapar memang nikmat. Walaupun bungkusan itu besar, tetap saja habis.

Pos 3 ke Shelter 1

Setelah lepas pos 3 adalah trek sesungguhnya, karena tidak ada bonus sama sekali. Kami harus melewati jalur yang berlumpur dan juga selalu menanjak. Aku sendiri tidak suka jalur air yang sempit, membuat perjalanan kami agak lama. Sering kali kami memanjat akar-akar karena terlalu tinggi untuk langsung dipijak.
Menjelang Shelter 1 hujan sudah mulai berhenti, di sana kami istirahat sejenak. Kami merapikan mantel kembali ke carrier supaya tidak menghambat perjalanan kami. Perjalanan ke Shelter 1 kira-kira 1 jam dari pos 3.
Add caption


Ke Shelter 2

Perjalanan dilanjutkan ke Shelter 2, perjalanan ini adalah yang terpanjang dan terberat dari seluruh perjalanan yang sudah kami lalui tadi. Kami mulai terpisah, Andi dan Dayat serta seorang Porter ada di depan. Selanjutnya om Benny sudah berjalan agak jauh di atas kami. Saya, Cinta, dan Elvy menyusul. Sedangkan Mega, Sukma, dan seorang Porter masih istirahat di Shelter 1.





Sepanjang perjalanan menuju Shelter 2 ini kami selalu bertiga dengan ELvy. Perjalanan terus menanjak, menggapai akar, melompati akar yang agak tinggi, masuk ke dalam semak-semak yang memayungi jalur adalah menu trek kali ini. Aku masih bisa melihat pendaki tua itu, om Benny, yang berjalan terus dengan langkahnya yang stabil dan aku ikuti terus.
Pada suatu tempat yang agak datar aku lihat om Benny dan beberapa pendaki sedang istirahat, kami pun ikut istirahat. Kami istirahat sebentar sambil makan oreo yang dibawa om Benny, aku tawarkan sambil bercanda, “ini bikin berat aja, gak mau dimakan om?” Sepertinya dia gak mau oreonya dikeluarkan di situ, benar aja, pas di tenda dia menggerutu kalau aku tawar-tawarkan biskuit-biskuit itu di sana, jadi habis oooh. Dalam hatiku, kalau yang bagusan dikit sih aku bawa terus om, Cuma oreo aja, gak level gua.
Selanjutnya kami berjalan bersama om Benny dan rombongan tetangga yang tadi istirahat besama, malah kami bertiga jadi menyusul mereka. Terus kami menapaki jalur yang menanjak bertiga, sesekali kami istirahat, aku perhatikan wajah Elvy agak pucat kelelahan. Di situ terungkap, kalau ternyata ini adalah pendakian pertamanya. Wow anak ini, pendakian pertamanya malah gunung api tertinggi di Indonesia ckckckck.

Ada yang Aneh menjelang Shelter 2?

Shelter 2 tinggal 50 meter lagi tapi hari mulai gelap, perjalanan adalah jalur air yang lumayan cekung menjadi parit-parit alami. Aku benci jalan yang sempit seperti ini, karena itu kalau sisinya bisa aku lewati, aku lebih suka melalui sisi-sisi parit walaupun agak mengangkang.
Cinta berjalan di depanku, Elvy menyusul di belakangku. Cinta minta aku jalan di depan sementara, dan kembali lagi dia berjalan di depan. Belakangan dia mengaku kalau di situ dia melihat seseorang, dan itu adalah ketika aku berjalan di depannya. Sampai tempat tersebut orang itu tidak ada, dan dia minta jalan di depan lagi. Tapi ketika lihat ke belakang, dia bilang orang itu (perempuan berambut panjang) jalan mengikuti di sebelah kananku terus sampai ke Shelter 2. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mengerti hal-hal seperti ini.
Kami sampai di Shelter 2, sudah ada dua tenda berdiri, Dayat, Andi, dan seorang Porter. Aku bantu-bantu mendirikan tenda ketiga. Dingin sekali Shelter 2 saat itu, angin berhembus sangat kencang, untungnya kami memang berada di bekas bangunan Shelter yang terlindung tebing dan pohon-pohon di depannya.

Mondok di Shelter 2

Kami memutuskan untuk bertenda di Shelter 2, karena Shelter 3 terlalu terbuka, dan pasti banyak angin yang berbahaya untuk bertenda. Selain itu hari sudah malam bila harus diteruskan ke Shleter 3.
Di tenda ini kami terbagi menjadi 4, 4, 2. Empat, empat untuk peserta dan dua untuk porter. Jumlah laki-laki 5 dan perempuan 3, aku bilang aku di tenda perempuan aja, biar bareng Cinta hehehe. Lagi pula aku agak khawatir kalau tidur bersama om Benny, karena aksen bicaranya menurutku agak seperti tukang salon. Andi yang sudah stay di tenda aku ‘usir’ untuk pidah ke tenda sebelah, dan akibat rasa pengertiannya yang dalam aku jadi setenda sama Cinta.


Andi yang baik terus memasakkan kami apapun yang diminta. Sementara penghuni yang lain sudah enggan berada di luar karena dingin, aku jadi gak enak terus menemani Andi yang kebetulan cuma kami peserta yang sama-sama merokok. Andi yang baik sudah masak apa saja, masih dikomplain om, katanya gak masak apa-apa, ckckck repect buat Andi, dia sadar udah meluncur meninggalkan kami dan istirahat lebih lama, makanya dia rela memasakkan apa saja buat kami.
Sayangnya bahan bakar yang kami bawa sudah hampir habis, maklum kami hanya membawa Cuma bawa sebotol gas dan 600l spirtus. Sebelum berangkat Mega memang sudah bertanya, apakah cukup membawa bahan bakarnya, aku bilang cukup, aku ingat dalam pendakian lain bahan bakarku selalu sisa, dan masih bisa buat ngopi berkali-kali di kontrakan. Ternyata di sini tidak cukup, maaf ya Mega, that’s my fault.
Setelah semuanya cukup makan, kami pun berangkat tidur. Dingin sekali Shelter 2 malam itu, aku masih mendengar bunyi angin menerpa fly sheet di sekitar kami yang dihuni empat kelompok. Tetangga kami turis Prancis yang tidak berhenti ngobrol mengganggu tidurku. Akhirnya akupun tidak bisa tidur dan mengganggu Cinta yang biasanya cepat tidur. Karena lelah kami akhirnya tertidur.
“Jam 3 woi bangun-bangun!” suara om Benny membangunkan kami, beliau sudah siap-siap melakukan summit. Tapi aku juga mendengar hujan yang jatuh menerpa tenda, aku malas bangun masih ngantuk, belum lagi hujan pasti membuat perjalanan tidak nyaman. Semua peserta tidur lagi. Jam 5 kami akhirnya bangun, siap-siap, menyiapkan peralatan narsis, membuat sarapan, dan tepat jam 6 kami melakukan summit attack.  

SUMMIT ATTACK

Perjalanan menuju Summit dimulai. Pagi itu masih agak gelap, kami naik melewati jalan air yang membentuk parit-parit alami agak dalam. Di kanan kiri adalah khas tumbuhan perdu yang sangat rapat menyembunyikan jalur itu, maka di sebut jalur ini adalah jalur tikus. Jalur ini terus serupa dan menanjak hingga Shelter 3.
Melelahkan sekali jalur yang kami lalui dengan otot yang masih kaku baru bangun tidur, tapi anehnya justru di Kerinci ini stamina ku baik-baik saja. Mungkin karena aku tidak membawa beban yang seperti biasanya, atau mungkin karena selalu bergandengan dengan Cinta.



Menjelang Shelter 3 terpaan angin semakin keras, aku berharap cuaca mendukung perjalanan kami ini. Kali ini kami berjalan bertiga dengan Elvy, sementara Mega dan Lihun (porter) jauh di belakang. Setelah Shelter 3 aku menjumpai patok yang aku pikir tugu Yudha, ternyata bukan. Tugu Yudha masih satu jam lagi kata Porter, oh my God.
Menuju tugu Yudha angin sangat-sangat keras membuat aku sempat terhuyung-huyung. Cinta dan Elvy agak ngeri melewati jalur ini, sebenarnya aku juga J . Aku berjalan di depan setengah merangkak, lalu setiap ada cekungan berlindung dari angin. Ada sebuah batu besar tiga jalur tanjakan lagi ke Tugu Yudha kami berlindung, angin benar-benar membuat kami ingat kami adalah hanya serpihan debu bagi Tuhan. Aku merambat pelan-pelan sampai ke batu selanjutnya untuk berlindung, aku lihat ke belakang Cinta dan Elvy tidak mengikuti, aku kasih aba-aba dan ajak mereka untuk berjalan ketika angin agak pelan, tapi ditunggu-tunggu mereka masih takut juga. Akhirnya aku kembali lagi ke batu tempat mereka berlindung, dan mengajak berjalan saling berpegangan tangan. Aku ajak mereka berjalan setengah merangkak dan jangan pernah melepaskan pegangan.
Setiap angin bertambah kencang, saat itu juga nyali kami juga terbang entah ke mana. Butuh mental yang kuat untuk berjalan di jalur ini. Aku bilang ke mereka, kita harus ke parit itu untuk berlindung, dan akhirnya kami sampai di parit di depan kami.
Ada dua pendaki yang turun, kami kenali yang perempuan bernama Meymey, aku pikir mereka sudah dari puncak dan akan turun, ternyata si pria drop dan hampir hypo. Pantas saja mereka turun tertatih-tatih dan si pria diselubungi sleeping bag. Meymey minta tolong aku untuk memeluk temannya itu, karena hampir hypo. Aku lihat si pria ini hanya mengenakan kaus dan celana pendek untuk muncak, hmm sombong juga yaa. Aku peluk dan panggil-panggil cowo ini supaya tidak tertidur, dan minta Meymey ‘memandikannya’ dengan minyak kayu putih yang dibawa Cinta. Lama juga kami di sana, sampai dua rekan mereka turun menghampiri untuk membawa dia kembali  ke tenda. Aku gak sempat tahu nama si cowo, lagian untuk nolong orang gak perlu juga pake tanya-tanya. Katanya si cowo beneran hypo tapi sudah sampai tenda, dan masih tertolong.
Perjalanan diteruskan dengan belasan kali rehat. Sepanjang jalur adalah batu dan pasir yang lumayan stabil. Hujan mulai turun rintik-rintik dan angin tidak berhenti menghempas kami dengan keras. Di sinilah sebenarnya klimaks kisah perjalanan kami menuju puncak gunung berapi tertinggi di Indonesia. Mega dan om Benny masih berjuang sekitar 30 meter di bawah kami, Cinta untuk pertama kalinya bilang “mas aku give up deh, kamu terusin aja sendiri”. Aku kaget tapi juga mengerti, tantangannya memang berat, di atas kami tidak nampak rombongan pendaki yang turun, begitu juga yang naik. Hujan mulai turun, dan perjalanan belum lagi sampai tugu Yudha. Dalam hati aku juga bilang, kalau gak ada kamu gak semangat naiknya, stamina masih ada, Cuma angin ini dahsyat banget. Aku lupa apa yang aku bilang ke Cinta, kalau gak salah “you’ll never give up, you can make it, you can make it, ayoo pelan-pelan aja”.
Akhirnya Cinta mau meneruskan perjalanan dan ternyata itu menumbuhkan semangat pendaki lain, yaitu Elvy yang mendengar pembicaraan kami dan sempat mau give up juga. Alhamdulillah semangat Cinta, the tough girl, to her I proud of, bikin Elvy juga semangat.
Menjelang tugu Yudha kami dihampiri Sukma dan Andi, dan memberikan bendera AWASPALA ke aku. Katanya ini dari temannya mas, masih di atas. Well saya senang ternyata Barkah sampai di puncak sesuai rencana. Hal ini belum saya ceritakan.

Barkah

Barkah juga anggota AWASPALA yang mendaki Kerinci, hanya saja dia bersama tim lain. Saya berdua Lina sudah punya rencana ke Kerinci, sesaat setelah turun dari gunung Slamet habis lebaran kemarin. Jadi sebelumnya kami tidak memberi tahu Barkah, bahwa kami akan ke Kerinci, bahkan pada gathering AWASPASLA di Ancol setelah pendakian bersama ke Cikurai.

Setelah turun dari Cikurai dia pengumuman akan pergi ke Kerinci dan meminta bendera AWASPALA untuk dikibarkan di Kerinci. Aku sebenarnya ingin membawa sendiri bendera tersebut, tapi dia berkeras. Aku jadi kepo mengenai itinerary dia ke Kerinci, ternyata dia lebih cepat sehari. Akhirnya aku ngaku juga mau ke Kerinci, dan membuat skenario tancap dan jemput bendera. Karena dia yang datang duluan, maka dia harus menancapkan bendera di puncak atau minimal di Shelter 3, kalau dia tidak sampai puncak. Begitulah cerita keberadaan Barkah di jalur pendakian kami.

Setelah Sukma memberi bendera itu, kami istirahat sebentar untuk membongkar bawaan Andi, roti tawar dan susu krim. Masih mending bawaanku roti sobek dan beberapa coklat, belum lagi nata de coco. Kami istirahat dulu di situ, eh dari kejauhan ada yang memanggil, “Mbak Linaaa!!” Barkah ternyata di sana dengan Shaun the Sheep nya menuju ke kami. “Mas mas itu Barkah”, kata Cinta. Well kami akhirnya bertemu di sini, tapi dia sudah sampai puncak. Itu menambah semangat kami lagi.
Om Benny dan Mega bergabung bersama kami, istirahat di sini sementara untuk makan roti tadi. Walaupun ada sebel sama om Benny, aku respect akan semangatnya. Well done om Benny, see you soon.

Tugu Yudha

Setengah jam kemudian kami mencapai tugu Yudha, ada penasaran juga di dalam hati, tugunya punya nama sama denganku. Aku mau tahu apa sih tugu Yudha, well tugu Yudha itu nisan atas nama Sentika yudha yang wafat di sini. Aku tidak tertarik lagi, bahkan untuk foto-foto di dekatnya bikin mood jadi turun. Tapi dari tugu Yudha ini aku bisa melihat puncak, yang sedikit-sedikit menghilang ditutup kabut, ini membuat semangat kami semakin membara.


Kami lanjutkan perjalanan kami, dan ternyata di atas baru kita bisa melihat lagi ada rombongan pendaki lain yang sedang naik. Rombongan pendaki itu bahkan hampir kami susul, dan kami lebih dulu sampai bendera. Aku bilang, “Cin itu benderanya di sana, kita udah sampe, itu benderanya.”
foto bareng Cinta di puncak tertinggi

Keren kan?

kika: Mega Barutu, Lihun, Lina, aku Elvy, Om Benny

Awaspala ada di puncak-puncak tertinggi

Kami pun sampai di puncak Kerinci, menyusul pendaki-pendaki lain. Aku lari ke arah bendera dan memang itulah puncaknya, aku kepalkan kedua tangan kuangkat ke atas. “yeah, puncak cin.” Aku hampiri Cinta, aku peluk aku cium keningnya, “akhirnya kamu sampai puncak cin.”
Selanjutnya adalah sesi narsis bersama tulisan 3805 mdpl yang jadi rebutan. Angin tetap berhembus kencang, ditambah bau belerang mengganggu kami, tapi kami sedang senang, kami tidak menghiraukan itu semua. Sepuluh menit kenudian om Benny datang sambil mengangkat sepasang trekking polenya tinggi-tinggi di susul Mega.
Kami semua berhasil mencapai puncak gunung berapi tertinggi di Indonesia. Well done Cinta, well done Elvy for your first summit, well done om Benny, you’ve reached the summit at your 64. Well done Mega, you’re success to bring us there.
Walaupun menurut rencana kita juga akan ke danau Gunung Tujuh, tapi cuaca bukan kita yang mengatur, biarkan danau Gunung Tujuh tetap menjadi next trip kita sekaligus reuni pendaki-pendaki Kerinci yang tangguh ini.

6 comments:

  1. gilak, om! dijadiin film pasti bagus! penuh tantangan dan romantis, duuuu~~ mulai di pesawat aja sudah seru gitu..
    bener-bener berat ya,, sampe mamih aja bilang give up. tapi syukurlah akhirnya semua sampe di puncak.

    selamat buat perjalanan cita-cintanya yang membahagiakan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan dulu aku pernah janji bikin novel semeru, pasti jadi hehehe. Di Kerinci ada karakter nyonya dibawakan si Oom

      Delete
  2. Perjalanan ini sungguh berat teman,,bukan hanya dibutuhkan stamina fisik yg kuat tapi mental dan kebersamaan menjadi peran utama disini buat kita bisa menapakkan kaki dipuncak volcano tertinggi di Indonesia..kita berhasil teman! my first summit yeeeaaah :D
    btw, itu seriusan ada penampakan (wanita berambut panjang)...OMG bikin merinding wkt bcnya -_____-

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo itu sihh tanya Lina vy, dia yang liat, yg kayak gini gw gk paham banget. Kalo masalah pengalaman bathin di gunung sih gw ada di jalur blank nya Rinjani, catper gue di sini juga yang turun dari puncak. Tuhan masih punya rencana lain untuk gw.

      Delete
  3. WAHHHHHHHHHHH,,,, kerennnnnn,,,,, sampe pusing saya baca blognya om quncen,,, ga abis-abis kata-katanya,,,,,,,,

    ReplyDelete
  4. Anonymous12:17 AM

    salutttttttttt, itu brp jam om summitnya?
    gimana medannya?

    ReplyDelete