Sunday, December 09, 2012

Rinjani 2: Mengenang Pyan Adami


Meneruskan tulisan saya terdahulu [klik] sekaligus mengenang teman saya Pyan Adami yang meninggal kemarin. Almarhum juga teman seperjalanan menuju Plawangan sembalun dalam awal posting Rinjani kedua ini.


Perjalanan dari Pos Satu Sembalun  dimulai jam 7 waktu setempat, setelah saya selesai bongkar tenda dan packing bersama Hendrik dan Ocol. Saya langsung ikut rombongan pertama berangkat ke Pos 2. Perjalanan sangat mengasikkan karena matahari masih malu-malu untuk melotot. Alam sekeliling adalah rumput sabana yang mengiringi perjalanan ke Pos 2.

Tidak sampai satu jam rombongan sampai ke Pos 2, di sana ada jembatan dan mata air yang mengalir ramah agak turun 10 Meter di bawah jembatan. Satu persatu pendaki antri mengisi air, dan kesempatan antri ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para model instan para pendaki yang belum mandi 2 hari.

Di dekat palang label Pos 2 Plawangan ada dua kera asik bercanda menunggu rombongan pergi, karena suasana privat mereka sempat terganggu, dan mereka memang menunggu mencari sisa-sisa makanan yang dibuang dekat mata air yang sembrono ditinggalkan oleh "pecinta alam" ini. Tak ayal dua kera ini juga jadi model foto dan bukti keberadaan mereka masih ada di Sembalun.


Jerigen saya isi setengah, karena diperkirakan kami akan sampai ke Camp Plawangan sekitar Maghrib. Saya hanya mengisi dua botol aqua besar yang saya bawa. Saya sudah membawa beban yang lumayan berat di punggung.


Dua batang rokok(kebiasaan buruk pendaki yang menyebabkan dehidrasi, selain penyakit lainnya) sudah habis, foto-foto juga sudah, kami melanjutkan perjalanan. Semakin ke atas pemandangan di bawah sangat indah, karena terik matahari seperti membantu menggambar pemandangan itu. Keindahan itu dibayar tuntas dengan terbakarnya kulit wajah dan bagian tubuh yang tidak dilindungi pakaian. Selain itu terik matahari mencekik kerongkongan yang minta dimanjakan untuk terus dibasahi bekal minuman.

Air yang saya bawa tidak habis oleh saya sendiri, kami saling berbagi terutama ke teman-teman yang malas bawa air banyak. Setiap ada pohon rindang di ujung tanjakan kami mengaso, entah berapa puluh kali. Saya termasuk pendaki dadakan yang tidak menguasai teknik pendakian, jadi tenaga saya habis untuk membawa beban berat di punggung.

Dalam perjalanan ke atas sering kali kami berpapasan dengan pendaki lain yang turun di Sembalun, kemungkinana mereka naik dari Senaru dan turun di Sembalun. Kebanyakan dari mereka turis-turis manca negara yang berjalan setengah berlari ke bawah membuat debu-debu beterbangan menyiksa kami yang baru naik.

Saya berjalan beriringan dengan Firka wartawan Foto Rakyat Merdeka, dia juga yang membawa ransel saya yang sangat berat, memang kami bertukar ransel. Memang ranselnya lebih ringan, tapi di atas 20 kilo juga.

Kami berjalan dengan rasa frustrasi yang bercampur haus, oleh karena itu kami sering berhenti menikmati keindahan alam Sembalun dari atas. Seringnya berhenti membuat otot kami yang tadinya sudah on kembali kaku, dan semakin membebani perjalanan.

Menjelang tengah hari kami sampai di Pos 3. Pos 3 dekat sebuah aliran sungai yang kebetulan waktu itu kering kerontang. Pemandangan di sana hanyaah bekas makanan dan kemah yang ditinggalkan pendaki sebelunya, dan pada waktu itu banyak turis luar yang sedang beristirahat. Pos tiga lebih teduh, dari pada pos 2 tapi saya tidak begitu menikmati spot itu karena selain sampah yang ada di situ, banyak sekali pendaki yang beristirahat.

Mulai dari situ saya mulai terpisah dari Firka dan Hafid (mereka teman setenda, meninggalkan Neo sang bos yang terengah-engah di belakang). Saya kemudian bergabung dengan rombongan Uchim dkk termasuk Almarhum Pyan dan Sony Ferrer. Tinggal 2 punggung bukit lagi air saya sudah habis, dan saya meminta dari pendaki yang turun sambil meyakinkan di bawah juga ada sumber air. Saya diberikan air yang sudah dicampur asam dan gula, kata mereka untuk menambah tenaga tapi buat saya ini semakin mencekik tenggorokan saya. Seraya berterima kasih saya pamit dan meneruskan perjalanan bersama Umar, Sony, Piyan.

Umar tidak meneruskan perjalanan memutuskan istirahat bersama Uchim dan kawan-kawan untuk masak makan siang, sementara saya lebih memilih meneruskan perjalanan mengingat bekal air saya sudah menipis dan ingin cepat sampai di perkemahan, karena di sana ada sumber air lagi.

Saya, Sony, dan Piyan melakukan perjalanan dengan otot yang sudah lemas lunglai. Setiap 10 langkah kami berhenti karena tanjakan yang curam menghabiskan energi kami. Secara konsisten kami berhitung dalam hati, setiap 10 langkah kami berhenti. Dan setiap 2 pemberhentian kami minum seteguk air sebanyak tutup botol aqua tidak lebih. Air itu air terakhir yang di bawa Sony untuk kami bertiga. Mulai saat itu kami pelit air, air kami sembunyikan di Rain Cover Sony.

Sementara itu saya sudah bertukar Carrier dengan Hendrik yang sudah berjalan terlebih dahulu, dia membawa Carrier saya yang sudah ditukar ke Firka di pemberhentian tampat masak makan siang tadi. Kemampuan saya benar-benar tidak bisa menandingi anak-anak muda yang sudah sampai duluan. Namun begitu kami bertiga masih bisa sampai di perkemahan sekitar lewat Maghrib, sementara masih banyak pendaki lain yang melebihi waktu Isya baru sampai.


Sesampai di atas, masih -/+ 400 Meter ke perkemahan, adalah klimaks kekuatan saya. Saya langsung lemas dan duduk menghadap ke arah danau Sgaraanak. Lemas saya terbayar dengan mengambil foto ke arah danau, duduk bersama sepasang turis dari Jerman (seorang konsultan proyek) yang menyusul saya setengah jam yang lalu. Saya melepas semua beban dan juga berfoto-foto ke arah puncak Rinjani sambil menunjuk dan berkata "I'll be there".

Dalam mengobrol dengan Bule tadi saya belum sadar, bahwa perkemahan masih jauh dan saya pikir rombongan Consina berkemah tidak terlalu jauh dari tempat saya duduk, saya juga meyakinkan turis Jerman tadi bahwa saya sudah sampai di sini. Dia sendiri menunjuk ke arah perkemahan tematnya yang lumayan masih terlihat kecil dari sini. Sialnya itulah tempat perkemahan Consina juga, lemas saya semakin lemas, dan tiba-tiba udara terasa sangat dingin dihembus angin dari danau.

Saya tersadar harus ke sana ketika Hendrik dan Firka pamit duluan kedinginan sambil meninggalkan Carrier  saya, karena berpikir saya masih mau ambil gambar di spot itu. Saya lihat sekeliling saya tinggal Sony yang siap berangkat mengajak pergi karena kedinginan dan saya mengikuti di belakngnya. Tapi tenaga saya sudah habis, perjalanan ke base camp bukanlah perjalanan datar. Saya berpikir mungkin saya lemas karena belum makan, tapi saya tidak punya nafsu makan kecuali makan sambel goreng udang dan pete rebus setengah matang yang sudah pasti di situ tidak ada.

Saya bilang ke Sony untuk pergi duluan, toh perkemahan sudah di dalam jangkauan pandangan walaupun masih kecil-kecil. Saya ingin ambil nafas dulu di sekitar 100M perjalanan, akhirnya Sony berjalan duluan karena mungkin dia membawa perbekalan yang diperlukan grup tendanya, sementara saya hanya membawa bekal makanan dan tenda sudah di bawa Hendrik dan Ocol yang sudah sampai lebih dulu.

Dalam perjalanan ada beberapa kelompok kemah dari pendaki lain yang berada di bibir bukit, ada yang sedang mengadakan standing party membuat jakun saya turun naik, tapi tidak saya pedulikan. Mereka turis-turis yang nyaman mendaki dan semuanya sudah diurus Porter.

Sempat saya minta minum di tenda pendaki yang menyendiri, sekitar sepuluh orang, tapi dari bahasanya mereka orang sunda. Saya dapat tenaga sedikit untuk melanjutkan perjalanan, saya memahami tubuh saya sendiri yang akan pingsan seandainya tempat tujuan saya masih 1 KM lagi.

Akhirnya saya tiba di kemah yang sudah didirikan oleh Ocol dan Hendrik, tapi mereka masih bongkar muat barang. Tidak ada satupun yang punya sisa air, dan berinisiatif ambil air. Saya haus dan gemetar, tapi tidak ada air saya bersikeras akan mengambil air tapi lutut saya gemetar. Sambil bongkar muat barang, saya mengambil head lamp dan duduk mengatur nafas.

Akhirnya saya pergi juga mengambil air dengan Hendrik dan teman-teman lain yang belum mengambil air. Saya pikir sumber air sudah dekat(seperti di iklan: sumber ai su dekar), ternyata masih menempuh 200 M turun dan nik dalam keadaan gelap malam. Sangat berbahaya buat saya dengan lutut yang gemetar ini mengambil air di sana, tapi karena butuh apa boleh buat.

Sumber air berupa cucuran air seperti dalam gua yang tidak mengumpul walaupun deras. Kami manaruh botol-botol kami mengantri dan cukup sebatang jisamsu habis untuk menunggu semua botol penuh. Kembali ke kemah adalah siksaan lagi bagi saya sambil waspada pada tebing-tebing yang kami lalui, saya yakin bila itu di siang hari kamipun akan gemetar untuk melewatinya.

Sampai di kemah kami memasak makanan kaleng yang saya bawa, 30 Menit, cukup lama sedangkan perut sudah keroncongan. Sambil menunggu, saya makan sosis goreng yang cepat masak.
Makanan kaleng khas tentara sudah siap saji, kami makan dengan tetangga tenda Firka dan kawan-kawan yang entah mengapa tidak ada satupun yang memasak makanan. Dalam santai makan masih ada teman pendaki yang baru datang, Haries Ambon datang tanpa rekan setendanya. Lemas dia minta bantu untuk didirikan tendanya, kami berikan pertolongan pertama untuk minum dan makan-makanan yang kami makan.
Mengenang Pyan Adami
Agak lama Gery Azza datang seperti orang mau pingsan, mulutnya gemetar kedinginan masih dengan Carrier besarnya. Semua teman tendanya masih di bawah, padahal saat itu sudah lepas Isya. Dia bilang teman-teman yang di bawah dijemput Porter untuk dipandu, bahkan beberapa tidak sanggup membawa Carriernya.

Kami harus tidur untuk persiapan Summit Attack jam 2.00 nanti, walaupn menurut jadwal adalah jam 00.00. Tunggu tulisan saya lagi untuk Summit Attack, cape nih




1 comment:

  1. keren keren om bayuda ... :D
    sekali" main ke blog azmi dong
    azmi-hacker2.blogspot.com

    ReplyDelete