Friday, June 14, 2013

Rinjani Part 3: Summit Attack


Jam 2 pagi kami dibangunkan bersiap-siap untuk melakukan Summit Attack. Tidur yang Cuma sebentar, dan harus bertiga dengan Ocol dan Hendry membuat saya begitu lemas untuk bangun. Tapi dengan niat yang kuat, tetap saja saya bersiap-siap untuk menuju puncak gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia.
Sweater, celana rangkap dan sebotol air mineral menjadi bekal saya. Bekal ini sebenarnya adalah sebuah langkah yang sembrono, karena perjalanan ke puncak sangatlah berat dan ini sama sekali tidak cukup. Nutrisi yang saya konsumsi sore tadi juga tidak begitu mendukung perjalanan ini. Headlamp sudah terpasang, sarung tangan juga, tongkat selain itu saya masih membawa senter cadangan.

Rombongan consina sudah bersiap-siap dan saya ikut dalam rombongan pertama. Dipandu oleh aditya, seorang mahasiswa universitas Mataram kami memulai perjalanan. Jalur awal adalah tanah berpasir yang sangat kering yang sangat berdebu bila dilalui tapak-tapak kaki.  Pada malam itu ada sekitar lima ratusan pendaki yang menuju puncak Rinjani.

Baru 50 Meter berjalan, nafas saya sudah tersengal-sengal. Kondisi badan saya juga drop, selain itu saya juga mengalami pilek sejak menanjak Plawangan Sembalun. Perjalanan langsung menanjak, pijakan kami adalah pasir halus. Semakin tinggi bijih pasir semakin besar.

Satu persatu rombongan consina meninggalkan saya, dan pada akhirnya pendaki dari kelompok lain, baik local maupun internasional silih berganti menyalib saya. Puluhan kali saya berhenti untuk sekedar mengatur nafas saya. Saya berjalan perlahan mengikuti jalur yang sudah ada. Saya tidak sendirian, banyak juga pendaki yang terengah-engah di sepanjang perjalanan.

Mat Uchim Kedinginan
Tanjakan awal sudah terlewati, perjalanan sedikit landai, di sana saya bertemu soul mate saya Mat Uchim. Usianya yang sebaya saya juga mengalami hal yang sama, tertinggal dari pendaki lain yang lebih segar.
Selanjutnya adalah bukit penyesalan, turun naik pada jalur ini sebanyak tujuh kali membuat semua sendi saya ngilu, otot betis saya juga hamper kram. Di sepanjang jalur bukit penyesalan ini saya berjalan bersama Mat Uchim. Bukit penyesalan adalah jalur yang dilalui untuk sampai ke puncak, dinamakan demikian, karena untuk menuju puncak masih jauh, dan untuk kembali sama jauhnya.


Saya masih di jalur ini bersama Mat Uchim ketika sun rise, berhenti sejenak untuk mencoba penganan coklat yang dibawa Uchim. Saya mengambil beberapa gambar sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan sepasang guru dari Karawang yang juga rombongan Consina, Eka Ichsanudin dan Deni. Ternyata kami memiliki speed yang sama menuju puncak. Kami berempat jalan saling menyusul, ketika ada yang break. Semakin ke atas semakin sedikit langkah yang bias kami buat untuk melakukan break selanjutnya.

Rinjani sudah terang, kami tidak memerlukan headlamp kami. Justru masalah baru muncul. Para pendaki yang turun dari puncak, menyiksa kami dengan debu-debu yang mengiringi perjalanan turun mereka. Dari jauh saya melihat perjalanan ke puncak seperti bentuk kelewang panjang berwarna putih, sementara para pendaki terlihat hanya seperti titik-titik yang bergerak-gerak.

Bukit penyesalan kami lewati, rasa penasaran dan letih menggoda kesabaran kami untuk sampai di puncak. Kami tiba pada jalur berupa batu-batu sebesar kepalan tangan berwarna hitam. Berartus-ratus meter jalan ini kami lalui, hingga kami sampai pada jalur yang saya lihat dari jauh seperti pedang berwarna putih. Ternyata itu adalah jalan berupa batuan berwarna putih sebesar dua kepalan tangan. Seluruh jalur, baik itu pasir, batuan hitam, dan batuan putih yang kami lalui sangat tidak stabil. Kami selalu terperosok dua langkah untuk setiap tiga langkah yang kami ambil.

Saya hampir menangis ketika kami sampai di jalur kelewang ini. Saya bias melihat rekan-rekan saya yang sudah sampai puncak, bahkan beberapa sudah turun. Bekal air saya sudah habis sama sekali, menjelang puncak kami bertemu dengan kelompok wanita berjilbab rifah maslah dkk yang juga rombongan Consina. Mereka masih memiliki air, bahkan masih ada Nata de Coco yang menyegarkan di saat itu yang sudha menunjukkan waktu jam 11. Air ini sangat membantu sekali. Kami semua yang tersisa masih berjuang mencapai puncak, walaupun kaki kami sudah tidak mau melangkah, hanya semangat yang membuat kami merengkuh puncak.

Perasaanku makin tidak karuan, karena di saat menjelang puncak rasaku ingin BAB hamper tak tertahankan. Aku ingin BAB, tapi keadaan terang benderang dan banyak pendaki yang lalu lalang membuat saya menahannya.
Eka tertinggal sangat jauh di bawah, dia tidak diperbolehkan meneruskan perjalanan. Saya, Uchim, Deni, Wibi, dan kelompok berjilbab meneruskan untuk meraih puncak. Menjelang tengah hari kami akhirnya sampai di puncak dan saya memecahkan rekor menjadi pendaki terakhir yang sampai di puncak.



Di atas masih ada rekan-rekan yang berfoto ria dan beristirahat sambil menikmati penganan yang mereka bawa. Mereka di antaranya adalah: Uchim, Wibi, Deni, Haries, Dema, Zured, Bowwo, dan rekan-rekan berjilbab. Sampai di puncak mereka member selamat kepada saya, sementara saya sudah tidak kuat lagi berdiri. Panas terik di puncak 3726 MDPL membakar kulit wajah saya. Semua itu tidak saya rasakan, karena saya sudah sampai puncak.

Saya termasuk orang yang beruntung bisa sampai di puncak Rinjani.
Mengenai BAB, sebenarnya itulah yang membuat saya menjadi orang terakhir dari rombongan Uchim, Deni, dan Wibi untuk sampai di puncak. Di sana di sela-sela batu menuju puncak yang agak tersembunyi, saya melakukan BAB. Inilah tempat BAB saya yang paling tinggi sejauh ini. Setelah selesai buru-buru saya kubur dengan pasir di sekeliling dan segera menyusul rekan yang lain.
Rinjani yang cantik mohon maaf kalau aku BAB di puncakmu, itu karena terpaksa.


Perjalanan Turun yang asik tapi mendebarkan

Perjalanan turun dari puncak seperti mimpi, saya bisa turun dengan kecepatan tinggai, karena batu dan pasir yang tidak stabil. saya terus memperosokkan diri tanpa rasa takut. Saya meninggalkan rekan-rekan saya di atas tergesa-gesa karena bekal air saya sudah habis.
Bukit penyesalan saya lahap dengan berlari, sampai ke tanjakan jalur awal kemi memulai Summit attack. Di sini semua pendaki harus hati-hati. Saking asyiknya main ski pasir, saya masuk agak ke kanan, dan saya terus membiarkan badan saya terbawa arus pasir. Saya belum manyadari bahaya, sampai saya tidak melihat jejak bekas tapak kaki pendaki di depan saya. Saya pun mengerem dan berjalan berhati-hati sambil berpegangan pada dahan dan akr pohon si samping lorong itu. selangkah-demi selangkah saya maju, khawatir terbawa arus pasir sebesar kelereng. Astaga ternyata, di depan saya adalah jurang dalam yang menganga.Saya melnyempatkan diri melihat ke bawah, ternyata arah perkemahan di Pelawangan masih jauh ke kiri. Gemetar juga saya mulai merambat mencari jalan. di sebuah dahan pohon saya menemui sebuah tali plastik merah diikat. di situ saya melihat ada pijakan ke atas, dan saya ikuti dengan hati-hati ternyata itu memang ke jalur yang benar. Mengikuti jalan setapak itu, akhirnya saya melihat ada pendaki berlarian ke bawah. Senangnya saya kembali ke jalur turun ke perkemahan lagi.
Sampai di bawah ada beberapa penduduk setempat yang menjadi porter menawarkan air pada saya. Smabil terengah-engah saya ceritakan pengalaman saya yang hampir mati. Mereka membernarkan ada jalur berbahaya di sana, seharusnya saya melihat ada Ranger yang menunggu di persimpangan. Tapi sayangnya saya tidak melihat seorang pun waktu itu. Akhirnya saya bergabung lagi dengan Ocol dan Hendriks. Hendriks tidak sampai ke puncak karena Drop dan berpapapasan dengan saya sekitar jam 5 di bukit Penyesalan.
Selanjutnya kami packing persiapan ke danau Sgara Anak.
Tunggu Tulisan saya mengenai danau SgaraAnak dan turun melalui jalur Snaru

No comments:

Post a Comment